Back
Flip
Vertical
Horizontal
All Pages
1 / 12
Mailing List
Share
Fullscreen
muhamad dzikir avatar
Fanzine

merajut asa pada rentetan abstaksi ekspektasi

By muhamad dzikir

sebuah catatan mengenai tendensi manusia dalam memelihara harapan di tengah realitas yang tidak selalu kooperatif. Di antara moralitas ketengan, tuntutan sosial, serta konstruksi keberhasilan yang terus direproduksi oleh lingkungan sekitar, ekspektasi perlahan menjelma menjadi sesuatu yang abstrak terlihat jelas dari kejauhan, namun sulit didefinisikan ketika didekati.

Go to stand
Share link
https://covver.com/magazine/aadon/merajut-asa-pada-rentetan-abstaksi-ekspektasi
Published
Jul 7, 2026
Pages
12

More in this magazine

  • MerajutAsa Pada Rentetan Abstraksi
  • Page 3Merajut Asa pada Rentetan Abstraksi Ekspektasi merupakan catatan mengenai tendensi manusia dalam memelihara harapan di tengah realitas yang tidak selalu kooperatif. Di antara moralitas ketengan, tuntutan sosial, serta konstruksi keberhasilan yang terus direproduksi oleh lingkungan sekitar, ekspektasi perlahan menjelma menjadi sesuatu yang abstrak terlihat jelas dari kejauhan, namun sulit didefinisikan ketika didekati.
  • RealitasSetiap pagi dimulai negosiasi yang sama. kemalasan yang menawarkan kenyamanan untuk menetap, semangat yang memaksa untuk bergerak, dan harapan yang terus membisikkan kemungkinan kemungkinan baik di masa mendatang. seringkali menyediakan cukup alasan untuk merasa optimis. Rutinitas berjalan sebagaimana mestinya, kewajiban terus berdatangan, sementara berbagai ekspektasi masih menggantung tanpa kepastian, namun entah mengapa, selalu ada tendensi untuk kembali menyusun rencana-rencana baru sebelum hari benar-benar berakhir.
  • Page 5sebab pada beberapa fase imajinasi kehidupan, mengenai masa depan bukan sekadar angan angan tetapi ia menjelma menjadi instrumen yang memungkinkan seseorang tetap bertahan menghadapi belum realitas yang sepenuhnya berpihak. 004
  • Page 7006 Kabar baik dari kerabat dekat hampir selalu menghadirkan dua emosi secara bersamaan, kebahagiaan karena menyaksikan seseorang yang dikenal berhasil mencapai tujuan yang diperjuangkannya, serta kegelisahan yang muncul secara diam diam setelahnya, bukan karena tendensi untuk membandingkan hidup secara berlebihan, apalagi mengurangi nilai dari pencapaian orang lain. Namun terdapat suatu mekanisme psikologis yang sulit dihindari ketika keberhasilan seseorang secara tidak langsung menjadi refleksi atas posisi diri sendiri dalam perjalanan yang sedang ditempuh.
  • Page 8Seiring percakapan dengan teman-teman perlahan berubah menjadi rutinitas yang memiliki pola serupa. Topiknya beragam, durasinya panjang, dan pembahasannya seringkali meluas ke berbagai arah. Namun apabila diperhatikan lebih seksama, hampir seluruh konversasi bermuara pada persoalan yang sama. Masa depan. bertambahnya usia, Tentang pekerjaan yang sedang dijalani. Tentang pekerjaan yang ingin ditinggalkan. Tentang peluang yang sedang dicari. Tentang kehidupan yang dibayangkan. Tentang kemungkinan yang diharapkan mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik daripada hari ini.
  • Page 9314 MERAJUT ASA PADA RENTETAN ABSTRAKSI EKSPEKTASI
  • Page 10Semakin hari dunia rasanya semakin sering menghadirkan kabar yang tidak pernah benar-benar siap untuk diterima. Kabar duka datang silih berganti, terkadang dari lingkaran yang jauh, terkadang dari mereka yang selama ini terasa begitu dekat, di tengah berbagai rencana yang sedang disusun, target yang sedang dikejar, serta ekspektasi yang terus dipelihara, kabar semacam itu menghadirkan kesadaran yang sederhana namun mengusik, bahwa waktu ternyata tidak bergerak sepelan yang selama ini dibayangkan. Ada banyak hal yang ingin diwujudkan. Ada banyak orang yang ingin dibahagiakan. Ada banyak bentuk balas budi yang belum sempat ditunaikan. Namun kehidupan tidak pernah memberikan informasi mengenai berapa lama kesempatan tersebut masih tersedia.
  • Page 12Semoga sebelum kabar berikutnya datang, setidaknya ada ekspektasi berhasil satu yang dibayar lunas duka PASA PADA RENTETAN AR
Text of this page

sebab pada beberapa fase imajinasi kehidupan, mengenai masa depan bukan sekadar angan angan tetapi ia menjelma menjadi instrumen yang memungkinkan seseorang tetap bertahan menghadapi belum realitas yang sepenuhnya berpihak.